jump to navigation

Refleksi 10 Tahun Pasca Reformasi Mei 20, 2008

Posted by Ahmad Affandi in Berita.
trackback

Sepuluh tahun pasca reformasi 1998 telah berlalu, dua kali pemilihan umum telah diselenggarakan, empat presiden pernah kita punyai, puluhan partai baru didirikan, propinsi dan kabupaten baru telah dimekarkan. Namun, Indonesia tidak banyak mengalami perubahan, baik dalam segi politik, ekonomi, maupun sosial. Rakyat tetap menjadi komoditi dan objek kekuasaan yang ditipu mentah-mentah saat pemilu dan dilupakan setelah kekuasaan baru disahkan. Hal ini dapat terlihat dari tidak terlaksananya agenda-agenda reformasi yang telah digembar-gemborkan. Semua hanyalah janji yang berlalu bersama angin.

Kegagalan pemerintah dalam menstabilkan harga bahan-bahan pokok merupakan salah satu bukti nyata bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah selama ini belum berpihak kepada rakyat. Bahkan seorang sosiolog, Musni Umar berpendapat bahwa reformasi selama ini pun tidak memberikan pengaruh terhadap tingginya tingkat kemiskinan, pengangguran, dan pemberantasan korupsi. ”Pada tahun 2007, kemiskinan di daerah Jakarta Utara saja mengalami kenaikan 77 persen dibanding tahun 2005,” tutur Musni.

Menurut Indro Tjahjono, Ketua Nasional Gerakan Mahasiswa 1977/1978, kebijakan yang selama ini diterapkan oleh pemerintah dalam bidang ekonomi dan politik masih belum berubah dibandingkan saat rezim Soeharto dahulu berkuasa. Sistem demokrasi yang diterapkan masih berupa demokrasi kapital, yaitu demokrasi yang tunduk kepada mereka yang memiliki uang. Maka tak heran lagi, bila dalam masa sepuluh tahun reformasi ini keadaan Indonesia masih saja sama bahkan dalam beberapa hal bertambah buruk.

Entah sampai kapan keadaan ini akan terus berlanjut?
Namun, reformasi belum selesai dan reformasi belum mati.
Saatnya, kita bersama-sama bangkit untuk bahu membahu mencapai tujuan reformasi. Kita sebagai mahasiswa, para pemuda dengan aset intelektual yang baik seharusnya turut berperan aktif menjadi seorang pelopor perubahan dan pengawal kebijakan. Menyuarakan opini dan seruan melalui aksi-aksi strategis juga menjalin kerjasama dengan rakyat, bersama bersatu padu dalam membangun negara melalui kebijakan-kebijakan dan tindakan-tindakan konkret yang pro rakyat.

Sesuai dengan hasil Konferensi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) yang telah dilaksanakan pada tanggal 21-23 Maret 2008 di Depok, Jawa Barat silam, maka para mahasiswa menyatakan bahwa cita-cita reformasi baru tercapai apabila Tujuh Gugatan Rakyat (Tugu Rakyat) telah terpenuhi:
1. Nasionalisasi aset strategis bangsa.
2. Wujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau, dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia.
3. Tuntaskan kasus BLBI & korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya sebagai perwujudan kepastian hukum di Indonesia.
4. Kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi dan energi.
5. Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat.
6. Tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan.
7. Selamatkan lingkungan Indonesia dan tuntut Lapindo Brantas untuk mengganti rugi seluruh dampak dari lumpur Lapindo.

Itulah janji dan komitmen bersama, tidak ada kata berhenti dan menyerah dalam perjuangan mewujudkan Indonesia yang lebih baik!
Mahasiswa, bangkitlah dan berjuanglah! Jangan terjebak oleh rutinitas menara gadingmu!
Mari bersama membangun negara!
Hidup Rakyat Indonesia!

Komentar»

No comments yet — be the first.